Digempur Corona Covid-19, Perjudian Macau Hancur Lebur!

Perjudian Macau Hancur Lebur
Perjudian Macau Hancur Lebur

Indoxxi.casino | Epidemik atau penyebaran wabah secara cepat, yang segera berubah menjadi pandemik atau penyebaran wabah yang mendunia, ternyata sudah mulai melebar ke mana-mana. | Perjudian Macau Hancur Lebur

Meskipun belum menyerang ranah ekonomi dunia, virus corona Wuhan (novel corona virus/n-CoV) yang sedang ditakuti dunia diyakini akan segera melumpuhkan dunia perjudian Makau.

Dalam risetnya hari ini, Selasa (4/2/2020) lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai dampak virus corona pada operator kasino Makau akan signifikan, meskipun penyebaran wabah n-CoV diyakini tidak akan memicu penurunan peringkat secara luas. Hal itu disebabkan perusahaan kasino yang diperingkat Fitch memiliki profil kredit yang solid dan membuat mereka akan bertahan dari tekanan tersebut.

Wuhan, Cerita Makau & IHSG, Apa Hubungannya?Foto: Penanganan Serius Pasien Terinfeksi Virus Corona di China (Xiong Qi/Xinhua via AP)

Fitch mencatat angka kunjungan ke Makau turun 80% berdasarkan Las Vegas Sands (LVS) sejak penyebaran virus corona dimulai, dan mulai 30 Januari otoritas China mulai membatasi visa travel ke Makau, termasuk kereta, feri, dan jalur udara.

Sebelumnya, sepanjang terjadi penyebaran virus flu babi H1N1 di Asia, pendapatan judi dan kunjungan Makau turun masing-masing 17% dan 16% pada Juni 2009. Periode itu merupakan bulan pertama di mana daerah tersebut melaporkan adanya kasus flu babi.

Baca:Pasar Saham Bergejolak, Begini Respons Bos Barito Pacific

Makau adalah kota dan daerah administrasi spesial milik China yang terletak di China bagian Selatan. Dengan statusnya sebagai tujuan liburan dan turisme judi, Makau memiliki populasi 667.000 orang di area seluas 32,9 km2, dan menjadi daerah dengan populasi terpadat di dunia.

Kejadian serupa juga terjadi dengan daerah administrasi spesial milik China lainnya yang berjarak 1 jam 57 menit perjalanan feri dari Makau. Ya betul, Hong Kong.

Gabungan dari dampak demonstrasi yang belum berhenti dan virus corona tadi dan perang dagang AS-China ternyata sukses menghantarkan pertumbuhan ekonomi kawasan istimewa tersebut pada resesi. Kemarin (3/2/20), Hong Kong mengumumkan resesi teknikal pada kuartal IV-2019 mereka yang sudah terjadi sejak kuartal III-2019.

Resesi teknikal adalah perlambatan ekonomi yang mengalami dua kali kontraksi ekonomi secara kuartalan berturut-turut. Pertumbuhan ekonomi tahunan Hong Kong dibukukan 2,9% pada kuartal IV-2019, berlanjut negatif dari kuartal III-2019 yang sebesar -2,8% dan memastikan resesi terjadi di negara tersebut.

Baca: Corona Picu Pasar Saham ‘Crash’, Apa Langkah Crazy Rich RI?

Di Indonesia, pasar saham domestik ternyata pernah ‘gemetaran’ juga mengalami virus-virus yang dampaknya sampai ke Indonesia.

Ketika flu burung H5N1 melanda pada Juni 2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga 1,9% sebulan setelah wabah melanda dan menggulung hingga -21,99% dalam 3 bulan pertama.

Pada periode 6 bulan, koreksi IHSG semakin berlipat hingga 42,3%. Namun, jangan lupa bahwa serangan H5N1 juga merebak seiring dengan pecahnya subprime mortgage di Amerika Serikat.

Belum lagi ketika flu burung H7N9 melanda pada Maret 2013. Karena mengganasnya virus tersebut berbarengan dengan defisit neraca berjalan yang melebar, koreksi yang terjadi cukuplah dalam yaitu 2,47% pada pertengahan tahun atau 3 bulan setelah mulai menyebar dan bertambah hingga menjadi 12,65% pada periode 6 bulan.

Baca:5 Saham Big Cap Dorong IHSG Hijau, Asing Masuk Lagi!

Namun, jangan lupa. Koreksi yang juga terjadi ketika MERS merebak pada April 2012 tidak besar dampaknya pada IHSG mengingat dampak dari flu dari Timur Tengah itu lebih terbatas dan cepat tenggelam.

Koreksi IHSG yang awalnya sempat 8,32% pada periode sebulan kemudian cepat mereda pada periode 3 bulan hingga menjadi tinggal 0,92%.

Kali ini, pelaku pasar global tentu mengkhawatirkan dampak virus corona Wuhan ke ekonomi China dan dunia. Patut diingat juga bahwa China merupakan mitra dagang nomor satu Indonesia, dengan nilai transaksi ekspor-impor Indonesia-China mencapai 7% pada 2018. Pada tahun lalu, nilai ekspor Indonesia ke China mencapai 29,95% dari total ekspor, sedangkan impor dari Negeri Tirai Bambu ke dalam negeri berporsi 16,68% dari total impor.

Dari sisi jumlah, pada 2019 Indonesia mengalami defisit transaksi perdagangan US$ 18,72 miliar dan pada 2018 defisitnya mencapai US$ 20,83 miliar.

Data pengaruh virus wabah ke IHSG tersebut dapat menjadi cerminan bahwa ketika dampak virusnya luas dan berkepanjangan, yang dapat ditunjukkan dari angka penyebaran dan kematian yang tidak turun-turun juga, maka dampaknya tidak hanya terhadap ekspektasi pasar saham tetapi juga bisa merambat ke perekonomian dunia.

Tentunya, tidak ada yang berharap bahwa virus corona Wuhan lebih ‘sangar’ dibanding virus-virus yang pernah menyerang dunia sebelumnya, tetapi kecil kemungkinan IHSG tidak akan terdampak dari sentimen negatif penyakit pernafasan tersebut.

Patut diperhatikan bahwa selama sebulan sejak posisi 1 Desember 2019 IHSG masih menguat 2,5% tetapi hingga hari ini sudah turun 2,25%. Ke depannya, meskipun belum ada tanda-tanda angka penyebaran dan angka kematian akibat virus n-CoV itu akan flat atau bahkan turun, masih besar harapan pelaku pasar bahwa dampak virus tersebut tidak akan menumbangkan ketangguhan IHSG.

Leave a Reply

%d bloggers like this: